Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Masih Tentang Mimpi...

Kau masih bercerita, tentang mimpimu saat menjelang dewasa.
Tentang harapan, cinta yg merdeka, tentang rindu yg menggebu dan sebait puisi tentang kebesaran NYA.
Disela-selanya kulihat air mata, lama aku tak melihatnya. Pasti bukan karena kerasnya hatimu, tapi kau menahannya demi menghapus resahku.

Bahkan ketika gelombang hidup demikian keras menghempas, kau meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tak ada sungai yang tak berriak, tak ada laut yang tak berombak. Angin yang menerpa bukan untuk memporak-porandakan kapal kita, tapi untuk memacu ke arah dermaga yg kita tuju. Toh angin tak selamanya badai, sebagiannya sejuk dan sepoi-sepoi", bisikmu diantara tatapan sendu.
"Terkadang sekumpulan camar yang singgah, melukis senja semakin megah" nada bicaramu semakin syahdu.

Aku tak pernah menolaknya, juga tak bisa mengingkarinya. Karena dulu, janji setiaku tak hanya padamu.
Ada sentuhan NYA dalam bait kata-katamu.
Ada senyuman NYA dalam  rangkaian kisahmu.

Jangan pernah berhenti mengejar mimpi, karena ia seperti bara agar kapal kita terus melaju.
Teruslah berkisah, aku tak merasa bosan atapun jengah.
Biarlah semua lelah berakhir indah.
Pun ketika nanti disuatu senja mimpi ini tak jua nyata.
Aku tetap menunggumu di sisi dermaga. Mengekalkan mimpi, dalam kisah hidup yang abadi..

.: Djogdja Istimewa, disela-sela isakan hujan, senja hari di penghujung Januari :.


Kamis, 20 Maret 2014

Tentang Sahabat ...

Ujian datang silih berganti mewarnai persahabatan kami.
Ada kalanya suka, esok berganti duka, hari ini kami menangis tak lama berganti tawa.
Setiap kali masalah datang, dia menghampiriku dan bertanya, "Masih sanggupkah menjadi sahabatku, sedang jalan hidupku tak pernah mudah, dan tak pernah tau akankah berakhir indah?".
Aku menatapnya, mencari jawaban dari kedalaman hatinya.
"Aku tak pernah tau esok hari, hanya bisa berusaha terbaik saat ini. Ada kuasa-Nya dalam setiap peristiwa, karenanya aku berusaha tetap setia" jawabku kala itu.

Kehidupan pun terus berjalan, bulan ini genap tujuh tahun kami berteman.
Dia menjadi peneguh disaat rapuh, pemberi tenang disaat badai datang.
Sahabatku, suamiku, abah dari anak-anakku, semoga kami ditakdirkan oleh Nya menjadi sahabat setia hingga akhirnya. Amin

*for my lovely hubby, happy wedding anniversary...
Ada kuasa Nya dalam setiap peristiwa. Bismillah aja :)

#merantau

Menyelesaikan urusan pekerjaan berdua.
Membagi tugas keseharian bersama.
Menjaga, mengurus dan mendampingi  anak-anak setiap harinya.
Lelah juga, tapi kita "dipaksa" dan akhirnya bisa.
#merantau

Kemana-mana anak-anak dibawa serta.
Ke setiap tempat mereka tak pernah lupa.
Tak ada nenek untuk berganti menjaga.
Tapi jangan pernah mengurangi syukur kita, karena dengan begitu anak-anak lebih mengenal orang tuanya.
#merantau

Hidup itu sebuah perjalanan.
Kadang ada tanjakan, belokan,  tikungan tajam, atau kerikil dan bebatuan.
Maka susahku dukamu, senangku tenangmu, sedihmu tangisku, bahagiamu gembiraku.
Tak ada yg lain tau.
#merantau

Tak jarang datang paket dari kampung halaman.
Ahh sungguh senang nian.
Beras, camilan, atau sekedar lauk dan buah-buahan.
Menjadi penawar rindu yang dinantikan.
#merantau

Satu lagi yang selalu membawa aura bahagia.
Berdesak desakan berburu tiket kereta.
Atau sekedar mengantri oleh-oleh khas Jogja.
Mudik dan segala persiapannya selalu seru dan penuh cerita.
Tak sabar melepas rindu untuk ibu, emak, dan bapak.
Kangen bertukar kisah dengan kakak-kakak, teriring kegaduhan para ponakan.
Lengkap dengan citarasa masakan rumahan.
Beruntungnya aku bisa merinduimu selalu.
#merantau

Dan sekarang tentang keluarga kecil kita.
Menikmati segelas teh kental tradisi ibu, ditemani sepiring ulen ala emak.
Menyatukan dua kebiasaan dalam nuansa senja dikota kita.
Rasa yg sama, warna yg berbeda.
Merantau membuat kita belajar hidup yang sebenarnya...

Senin, 03 Maret 2014

Mimpi Pejalan Kaki

Mimpi yang mengawali perjalanan kita hingga disini.
Bergelut dengan jalanan sepanjang hari.
Kita hanya melangkah, mengikuti hati menunjuk arah.
Membawa serta semua mimpi seperti nyala dian di malam hari.
Terkadang ia menyala terang, tak jarang redup tertiup kabut.
Kau teguh menggenggamnya, aku berusaha sabar menjaga nyalanya.

Sesekali kita melintas jalanan aspal, berseling dataran berkerikil batuan.
Kaki-kaki kita tak lagi melepuh seperti hari-hari yg kemarin kita tempuh.
Mungkin semakin terbiasa? Atau kulit telapaknya telah menebal dengan sendirinya?

Di awal pagi kita berjanji,bertelanjang kaki saja tanpa kendara.
Hanya jemari yang terajut, telapak tangan saling bertaut.
Berbagi salam pada sesama pejalan, menambah bekal di perjalanan.
Sering kali langkah kita seolah melambat, tapi bukankah dengan begitu kita bisa memandang sekitar lebih dekat?
"Bunga, kumbang, kesejukan, terlalu indah untuk dilewatkan" bisikmu mengusir keraguan.

Sudah ribuan jejak kita tertinggal di tepian.
Jangan merasa lelah, apalagi menyerah kalah.
Alloh menghibur kita dengan gemericik air, desahan angin dan kilauan senja.
Tak ada cerita yang sia-sia.
Yakinlah perjalanan mimpi kita indah pada akhirnya...