Mimpi yang mengawali perjalanan kita hingga disini.
Bergelut dengan jalanan sepanjang hari.
Kita hanya melangkah, mengikuti hati menunjuk arah.
Membawa serta semua mimpi seperti nyala dian di malam hari.
Terkadang ia menyala terang, tak jarang redup tertiup kabut.
Kau teguh menggenggamnya, aku berusaha sabar menjaga nyalanya.
Sesekali kita melintas jalanan aspal, berseling dataran berkerikil batuan.
Kaki-kaki kita tak lagi melepuh seperti hari-hari yg kemarin kita tempuh.
Mungkin semakin terbiasa? Atau kulit telapaknya telah menebal dengan sendirinya?
Di awal pagi kita berjanji,bertelanjang kaki saja tanpa kendara.
Hanya jemari yang terajut, telapak tangan saling bertaut.
Berbagi salam pada sesama pejalan, menambah bekal di perjalanan.
Sering kali langkah kita seolah melambat, tapi bukankah dengan begitu kita bisa memandang sekitar lebih dekat?
"Bunga, kumbang, kesejukan, terlalu indah untuk dilewatkan" bisikmu mengusir keraguan.
Sudah ribuan jejak kita tertinggal di tepian.
Jangan merasa lelah, apalagi menyerah kalah.
Alloh menghibur kita dengan gemericik air, desahan angin dan kilauan senja.
Tak ada cerita yang sia-sia.
Yakinlah perjalanan mimpi kita indah pada akhirnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar